Perkembangan (Development)
merupakan suatu proses yang pasti di alami oleh setiap individu, perkembangan ini
adalah proses yang bersifat kualitatif dan berhubungan dengan kematangan
seorang individu yang ditinjau dari perubahan yang bersifat progresif serta
sistematis di dalam diri manusia.
Perkembangan
biologis atau fisik sangat berkaitan erat dengan terjadinya proses evolusi
manusia seperti :
1.
Perubahan sikap tubuh dan cara bergerak
2.
Perubahan fungsi bagian tertentu tubuh manusia
3. Perkembangan kepala
4. Perkembangan alat pembau
5. Perkembangan alat penglihatan.
Sedangkan
pada perkembangan motorik anak akan menjadi lebih halus dan lebih terkoordinasi
dibandingkan dengan masa bayi. Anak-anak terlihat lebih cepat dalam berlari dan
pandai meloncat serta mampu menjaga keseimbangan badannya. Untuk memperhalus
ketrampilan-ketrampilan motorik, anak-anak harus terus melakukan berbagai
aktivitas fisik informal dalam bentuk permainan. Sedangkan perkembangan
perseptual adalah kemampuan memahami dan menginterprestasikan informasi
sensori, atau kemampuan intelek untuk mencarikan makna dari data yang diterima
oleh berbagai indra. Ada tiga proses aktivitas perseptual yang perlu dipahami,
yaitu : sensasi, persepsi, dan atensi.
Teori perkembangan kognitif piaget adalah
salah satu teori yang menjelaskan bagaimana anak beradaptasi dengan dan
menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian disekitarnya. Bagaimana anak
mempelajari ciri-ciri dan fungsi dari objek-objek, seperti mainan, perabot, dan
makanan, serta objek-objek social seperti diri, orang tua dan teman.
Pada pandangan piaget (1952), kemampuan atau
perkembangan kognitif adalah hasil dari hubungan perkembangan otak dan system
nervous dan pengalaman-pengalaman yang membantu individu untuk beradaptasi
dengan lingkungannya.
Piaget (1964) berpendapat, karena manusia
secara genetik sama dan mempunyai pengalaman yang hampir sama, mereka dapat
diharapkan untuk sungguh-sungguh memperlihatkan keseragaman dalam perkembangan
kognitif mereka. Oleh karena itu, dia mengembangkan empat tahap tingkatan
perkembangan kognitif yang akan terjadi selama masa kanak-kanak sampai remaja,
yaitu sensori motor (0-2 tahun) dan praoperasional (2-7 tahun). Yang akan kita
bicarakan untuk masa kanak-kanak adalah dua tahap ini lebih dahulu, sedangkan
dua tahap yang lain, yaitu operasional konkret (7-11 tahun) dan operasional
formal (11-dewasa), akan kita bicarakan pada masa awal pubertas dan masa
remaja.
Dalam teori perkembangan kognitif Piaget,
masa remaja adalah tahap transisi dari penggunaan berpikir konkret secara
operasional ke berpikir formal secara operasional. Remaja mulai menyadari
batasan-batasan pikiran mereka. Mereka berusaha dengan konsep-konsep yang jauh
dari pengalaman mereka sendiri. Inhelder dan Piaget (1978) mengakui bahwa
perubahan otak pada pubertas mungkin diperlukan untuk kemajuan kognitif remaja.
Menurut Jean Piaget, perkembangan manusia
melalui empat tahap perkembangan kognitif dari lahir sampai dewasa. Setiap
tahap ditandai dengan munculnya kemampuan intelektual baru di mana manusia
mulai mengerti dunia yang bertambah kompleks.
Tahap-Tahap
|
Umur
|
Kemampuan
|
Sensori-motorik
|
0-2 tahun
|
Menunjuk pada konsep permanensi objek,
yaitu kecakapan psikis untuk mengerti bahwa suatu objek masih tetap ada.
Meskipun pada waktu itu tidak tampak oleh kita dan tidak bersangkutan dengan
aktivitas pada waktu itu. Tetapi, pada stadium ini permanen objek belum
sempurna.
|
Praoperasional
|
2-7 tahun
|
Perkembangan kemampuan menggunakan
simbol-simbol yang menggambarkan objek yang ada di sekitarnya. Berpikir masih
egosentris dan berpusat.
|
Operasional
|
7-11 tahun
|
Mampu berpikir logis. Mampu konkret
memperhatikan lebih dari satu dimensi sekaligus dan juga dapat menghubungkan
dimensi ini satu sama lain. Kurang egosentris. Belum bisa berpikir abstrak.
|
Operasional formal
|
11tahun-dewasa
|
Mampu berpikir abstrak dan dapat
menganalisis masalah secara ilmiah dan kemudian menyelesaikan masalah.
|
Penerapan dari empat tahap perkembangan intelektual
anak yang dikemukakan oleh Piaget, adalah sebagai berikut:
1. Tahap
Sensorimotor (0-2 tahun)
Untuk mengembangkan kemampuan matematika anak di tahap
ini, kemampuan anak mungkin ditingkatkan jika dia cukup diperbolehkan untuk
bertindak terhadap lingkungan. Anak – anak pada tahap sensorimotor memiliki
beberapa pemahaman tentang konsep angka dan menghitung. Misalnya: Orang tua
dapat membantu anak- anak mereka menghitung dengan jari, mainan dan permen.
Sehingga anak dapat menghitung benda yang dia miliki dan mengingat apabila ada
benda yang ia punya hilang.
2. Tahap persiapan
operasional ( 2 -7 tahun)
Piaget membagi perkembangan kognitif tahap persiapan
operasional dalam dua bagian:
a. Umur 2 – 4
tahun
Pada umur 2 tahun, seorang anak mulai dapat
menggunakan symbol atau tanda untuk mempresentasikan suatu benda yang tidak
tampak dihadapannya. Penggunaan symbol itu tampak dalam 4 gejala berikut:
1) Imitasi tidak
langsung
Menurut Wadsworth (dalam Paul Suparno, 2001:51), Anak
mulai dapat menggambarkan suatu hal yang sebelumnya dapat dilihat, yang
sekarang sudah tidak ada. Dengan kata lain, ia mulai dapat membuat imitasi yang
tidak langsung dari bendanya sendiri.
Contohnya: Bola sesungguhnya dalam bentuk bola
plastik.
2) Permainan
simbolis
Dalam permainan simbolis, seringkali terlihat bahwa
seorang anak berbicara sendirian dengan mainannya. Misalnya: Jika si anak
merasa senang dengan bola, maka ia akan bermain bola – bolaan. Menurut Piaget,
permainan tersebut merupakan ungkapan diri anak dalam menghadapi masalah,
suasana hati, ketakutan dan lain – lain
3) Menggambar
Menggambar pada tahap pra operasional merupakan
jembatan antara permainan simbolis dengan gambaran mental. Unsur permainan
simbolisnya terletak pada segi “kesenangan” pada diri anak yang sedang
menggambar. Unsur gambaran mentalnya terletak pada usaha anak untuk mulai meniru
sesuatu yang real.
4) Gambaran mental
Gambaran mental adalah penggambaran secara pikiran
suatu objek atau pengalaman yang lampau. Pada tahap ini, anak masih mempunyai
kesalahan yang sistematis dalam menggambarkan kembali gerakan atau transformasi
yang ia amati. Contoh: deretan 5 kelereng berwarna coklat dan hitam sebagai
berikut
Gambar.3
Dari gambar tersebut anak masih beranggapan bahwa
kelereng coklat lebih banyak daripada kelereng hitam karena jarak kelereng
coklat lebih besar daripada kelereng hitam. Apabila jarak kelereng hitam dan
coklat disamakan maka anak mengatakan bahwa jumlah kelereng sama.
b. Umur 4 – 7 tahun
(pemikiran intuitif)
Pada umur 4 – 7 tahun, pemikiran anak semakin
berkembang pesat. Tetapi perkembangan itu belum penuh karena anak masih
mengalami operasi yang tidak lengkap dengan suatu bentuk pemikiran atau
penalaran yang tidak logis. Contoh: Terdapat 20 kelereng, 16 berwarna merah dan
4 putih diperlihatkan kepada seorang anak dengan pertanyaan berikut: “Manakah
yang lebih banyak kelereng merah ataukah kelereng-kelereng itu?”
A usia 5 tahun menjawab: “lebih banyak kelereng
merah.”
B usia 7 tahun menjawab: “Kelereng kelereng lebih
banyak daripada kelereng yang berwarna merah.” Tampak bahwa A tidak mengerti
pertanyaan yang diajukan, sedangkan B mampu menghimpun kelereng merah dan putih
menjadi suatu himpunan kelereng atau dapat disimpulkan bahwa anak masih sulit
untuk menggabungkan pemikiran keseluruhan dengan pemikiran bagiannya. Contoh
lain, seorang anak dihadapkan dengan pertanyaan: “Manakah yang lebih berat 1 Kg
kapas atau 1 Kg besi?”. Anak tersebut pasti menjawab 1 Kg besi tanpa berpikir
terlebih dahulu.
3. Tahap operasi
konkret (7 – 11 tahun)
Tahap operasi konkret dicirikan dengan perkembangan
system pemikiran yang didasarkan pada aturan – aturan tertentu yang logis.
Tahap operasi konkret ditandai dengan adanya system operasi berdasarkan apa-
apa yang kelihatan nyata/konkret. Anak masih mempunyai kesulitan untuk
menyelesaikan persoalan yang mempunyai banyak variabel. ya. Misalnya, bila
suatu benda A dikembangkan dengan cara tertentu menjadi benda B, dapat juga
dibuat bahwa benda B dengan cara tertentu kembali menjadi benda A. Dalam
matematika, diterapkan dalam operasi penjumlahan (+), pengurangan (-), urutan
(<), dan persamaan (=).
Contohnya, 5 + 3 = 8 dan 8 – 3 = 5
Pada umur 8 tahun, anak sudah memahami konsep
penjumlahanyang sterusnya berlanjut pada perkalian. Misalnya guru memberikan
soal kepada siswa mengenai perkalian.
Guru: “Berapa 8 × 4, Dony?”
Dony: “ 32 Pak!”
Pada umur 9 tahun, penalaran anak masih cenderung
tidak dapat menghubungkan suatu rangkaian atau gagasan yang terpisah dalam
suatu keseluruhan yang masih kurang jelas.
Contohnya dalam menyelesaikan persoalan berikut:
Rambut Tina (T) kurang gelap daripada rambut Sinta
(S).
Rambut Tina (Ts) lebih gelap daripada rambut Lily (L).
Rambut siapa yang lebih gelap?
4. Tahap operasi
formal (11 tahun keatas)
Pada tahap ini, anak sudah mampu berpikir abstrak bila
dihadapkan kepada suatu masalah dan ia dapat mengisolasi untuk sampai kepada
penyelesaian masalah tersebut. Pikirannya sudah dapat melampaui waktu dan
tempat tidak hanya terikat pada hal yang sudah dialami.
Lev Vygotsky (1896-1934) berpendapat bahwa perkembangan kognitif dan bahasa
anak-anak tidak berkembang dalam suatu situasi sosial yang hampa. Vygotsky
tidak setuju dengan pandangan Piaget bahwa anak menjelajahi dunianya sendiri
dan membentuk gambaran realitas batinnya sendiri. Vygotsky menekankan bagaimana
proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran
melibatkan pembelajaran menggunakan temuan-temuan masyarakat seperti bahasa,
sistem matematika, dan alat-alat ingatan.
Penekanan Vygotsky pada peran kebudayaan dan masyarakat di dalam
perkembangan kognitif lebih banyak menekankan peranan orang dewasa dan
anak-anak lain dalam memudahkan perkembangan si anak. Menurut Vygotsky, anak-anak
lahir dengan fungsi mental yang relatif dasar seperti kemampuan untuk memahami
dunia luar dan memusatkan perhatian. Namun, anak-anak tak banyak memiliki
fungsi mental yang lebih tinggi seperti ingatan, berfikir dan menyelesaikan
masalah. Pada intinya dapat disimpulkan bahwa dalam teori Vygotsky
mengandung banyak unsur psikologi pendidikan, khususnya pokok bahasan
pendidikan dan budaya.Seperti Piaget, Vygotsky menekankan bahwa anak-anak
secara aktif menyusun pengetahuan mereka. Akan tetapi menurut Vygotsky,
fungsi-fungsi mental memiliki koneksi-koneksi sosial. Vygotsky berpendapat
bahwa anak-anak mengembangkan konsep-konsep lebih sistematis, logis, dan
rasional sebagai akibat dari percakapan dengan seorang penolong yang ahli.
Menurut Vygotsky, perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seorang
seturut dengan teori sciogenesis. Dimensi kesadaran social bersifat primer,
sedangkan dimensi individualnya bersifat derivative atau merupakan turunan dan
bersifat skunder. Artinya, pengetahuan dan pengembangan kognitif individu
berasal dari sumber-sumber social di luar dirinya. Hal ini tidak berarti bahwa
individu bersikap pasif dalam perkembangan kognitifnya, tetapi Vygotsky juga
menekankan pentingnya peran aktif seseorang dalam mengkonstruksi pengetahuannya.
Maka teori Vygotsky sebenarnya lebih tepat disebut dengan pendekatan
konstruktivisme. Maksudnya, perkembangan kognitif seseorang disamping
ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, juga oleh lingkungan social yang
aktif pula.
Teori psikologi yang dipegang oleh vygotsky lebih mengacu pada
kontruktivisme. Karena ia lebih menekan pada hakikat pembelajaran
sosiokultural. Dalam analisisnya, perkembangan kognitif seseorang disamping
ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, juga ditentukan oleh lingkungan
social secara aktif.
Teori Vygotsky menawarkan suatu potret perkembangan manusia sebagai sesuatu
yang tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Vygotsky
menekankan bagaimana proses-proses perkembangan mental seperti ingatan,
perhatian, dan penalaran melibatkan pembelajaran menggunakan temuan-temuan
masyarakat seperti bahasa, sistem matematika, dan alat-alat ingatan. Ia juga
menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang dengan bimbingan dari
orang-orang yang sudah terampil di dalam bidang-bidang tersebut. Vygotsky lebih
banyak menekankan peranan orang dewasa dan anak-anak lain dalam memudahkan
perkembangan si anak. Menurut Vygotsky, anak-anak lahir dengan fungsi mental
yang relatif dasar seperti kemampuan untuk memahami dunia luar dan memusatkan
perhatian. Namun, anak-anak tak banyak memiliki fungsi mental yang lebih tinggi
seperti ingatan, berfikir dan menyelesaikan masalah. Fungsi-fungsi mental yang
lebih tinggi ini dianggap sebagai ”alat kebudayaan” tempat individu hidup
dan alat-alat itu berasal dari budaya. Alat-alat itu diwariskan pada
anak-anak oleh anggota-anggota kebudayaan yang lebih tua selama
pengalaman pembelajaran yang dipandu. Pengalaman dengan orang lain secara
berangsur menjadi semakin mendalam dan membentuk gambaran batin anak tentang
dunia. Karena itulah berpikir setiap anak dengan cara yang sama dengan anggota
lain dalam kebudayaannya.
Menurut vygotsky (1962), keterampilan-keterampilan dalam keberfungsian
mental berkembang melalui interaksi sosial langsung. Informasi tentang alat-alat,
keterampilan-keterampilan dan hubungan-hubungan interpersonal kognitif
dipancarkan melalui interaksi langsung dengan manusia. Melalui pengorganisasian
pengalaman-pengalaman interaksi sosial yang berada di dalam suatu latar
belakang kebudayaan ini, perkembangan mental anak-anak menjadi matang.
Meskipun
pada akhirnya anak-anak akan mempelajari sendiri beberapa konsep melalui
pengalaman sehari-hari, Vygotsky percaya bahwa anak akan jauh lebih berkembang
jika berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tidak akan pernah mengembangkan
pemikiran operasional formal tanpa bantuan orang lain.
Vygotsky
mencari pengertian bagaimana anak-anak berkembang dengan melalui proses
belajar, dimana fungsi-fungsi kognitif belum matang, tetapi masih dalam proses
pematangan. Vygotsky membedakan
antara aktual development dan potensial development pada anak. Actual
development ditentukan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa
bantuan orang dewasa atau guru. Sedangkan potensial development membedakan
apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu, memecahkan masalah di bawah
petunjuk orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya.
1. Konsep Zona Perkembangan Proksimal (ZPD)
Zona Perkembangan Proksimal adalah istilah Vygotsky untuk rangkaian tugas
yang terlalu sulit dikuasai anak seorang diri tetapi dapat diipelajari dengan
bantuan dan bimbingan orang dewasa atau anak-anak yang terlatih. Menurut
teori Vygotsky, Zona Perkembangan Proksimal merupakan celah antara actual
development dan potensial development, dimana antara
apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan
apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang dewasa atau
kerjasama dengan teman sebaya. Batas bawah dari ZPD adalah tingkat
keahlian yang dimiliki anak yang bekerja secara mandiri. Batas atas adalah
tingkat tanggung jawab tambahan yang dapat diterima oleh anak dengan bantuan
seorang instruktur. Maksud dari ZPD adalah menitikberatkan ZPD pada
interaksi sosial akan dapat memudahkan perkembangan anak.
2. Konsep Scaffolding
Scaffolding ialah perubahan tingkat dukungan. Scaffolding adalah
istilah terkait perkembangan kognitif yang digunakan Vygotsky untuk
mendeskripsikan perubahan dukungan selama sesi pembelajaran, dimana orang yang
lebih terampil mengubah bimbingan sesuai tingkat kemampuan anak.Dialog adalah
alat yang penting dalam ZPD. Vygotsky memandang anak-anak kaya konsep tetapi
tidak sistematis, acak, dan spontan. Dalam dialog, konsep-konsep tersebut dapat
dipertemukan dengan bimbingan yang sistematis, logis dan rasional.
3. Bahasa dan Pemikiran
Menurut Vygotsky, anak menggunakan pembicaraan bukan saja untuk komunikasi
sosial, tetapi juga untuk membantu mereka menyelesaikan tugas. Lebih jauh
Vygotsky yakin bahwa anak pada usia dini menggunakan bahasa unuk merencanakan,
membimbing, dan memonitor perilaku mereka. Vygotsky mengatakan bahwa bahasa dan
pikiran pada awalnya berkembang terpisah dan kemudian menyatu. Anak harus
menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain sebelum mereka dapat
memfokuskan ke dalam pikiran-pikiran mereka sendiri. Anak juga harus
berkomunikasi secara eksternal dan menggunakan bahasa untuk jangka waktu yang
lama sebelum mereka membuat transisi dari kemampuan bicara ekternal menjadi
internal.
Pada dasarnya teori-teori Vygotsky didasarkan pada tiga ide utama: (1)
bahwa intelektual berkembang pada saat individu menghadapi ide-ide baru dan
sulit mengaitkan ide-ide tersebut dengan apa yang mereka telah ketahui; (2)
bahwa interaksi dengan orang lain memperkaya perkembangan intelektual; (3)
peran utama guru adalah bertindak sebagai seorang pembantu dan mediator
pembelajaran siswa.
Penerapan Teori Belajar Vygotsky Dalam Interaksi Belajar Mengajar
(1) Walaupun anak
tetap dilibatkan dalam pembelajaran aktif, guru harus secara aktif mendampingi
setiap kegiatan anak-anak. Dalam istilah teoritis, ini berarti anak-anak
bekerja dalam Zone of proximal developmnet dan guru menyediakan scaffolding
bagi anak selama melalui ZPD.
(2) Secara khusus
Vygotsky mengemukakan bahwa disamping guru, teman sebaya juga berpengaruh
penting pada perkembangan kognitif anak, kerja kelompok secara kooperatif
tampaknya mempercepat perkembangan anak.
(3) Gagasan tentang
kelompok kerja kreatif ini diperluas menjadi pengajaran pribadi oleh teman sebaya
(peer tutoring), yaitu seorang anak mengajari anak lainnya yang agak tertinggal
dalam pelajaran. Satu anak bisa lebih efektif membimbing anak lainnya melewati
ZPD karena mereka sendiri baru saja melewati tahap itu sehingga bisa dengan
mudah melihat kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak lain dan menyediakan
scaffolding yang sesuai.
Menurut Vygotsky, anak-anak lahir dengan fungsi mental yang relatif dasar
seperti kemampuan untuk memahami dunia luar dan memusatkan perhatian.
Anak-anak tak banyak memiliki fungsi mental yang lebih tinggi seperti
ingatan, berfikir dan menyelesaikan masalah. Fungsi-fungsi mental yang lebih
tinggi ini dianggap sebagai ”alat kebudayaan” tempat individu hidup dan
alat-alat itu berasal dari budaya. Alat-alat itu diwariskan pada anak-anak oleh
anggota-anggota kebudayaan yang lebih tua selama pengalaman pembelajaran
yang dipandu. Pengalaman dengan orang lain secara berangsur menjadi semakin
mendalam dan membentuk gambaran batin anak tentang dunia. Karena itulah
berpikir setiap anak dengan cara yang sama dengan anggota lain dalam
kebudayaannya. Menurut vygotsky (1962), keterampilan-keterampilan dalam
memfungsikan mental anak berkembang melalui interaksi sosial langsung.
Dalam teorinya, Vygotsky lebih banyak menekankan bahasa dalam perkembangan
kognitif daripada Piaget. Bagi Piaget, bahasa baru tampil ketika anak sudah
mencapai tahap perkembangan yang cukup maju. Pengalaman berbahasa anak
tergantung pada tahap perkembangan kognitif saat itu. Namun, bagi Vygotsky,
bahasa berkembang dari interaksi sosial dengan orang lain. Awalnya,
satu-satunya fungsi bahasa adalah komunikasi. Bahasa dan pemikiran berkembang
sendiri, tetapi selanjutnya anak mendalami bahasa dan belajar menggunakannya
sebagai alat untuk membantu memecahkan masalah.
Meskipun pada akhirnya anak-anak akan mempelajari sendiri beberapa konsep
melalui pengalaman sehari-hari, Vygotsky percaya bahwa anak akan jauh lebih
berkembang jika berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tidak akan pernah
mengembangkan pemikiran operasional formal tanpa bantuan orang lain. Vygotsky
mengemukakan bahwa fungsi-fungsi kognitif anak-anak belum benar-benar matang,
tetapi masih dalam proses pematangan. Sehingga secara tidak langsung anak
membutuhkan orang lain untuk mematangkan dan mengembangkan pola pikirnya.
Bahasa
merupakan alat komunikasi yang digunakan setiap orang dalam pergaulannya atau
berhubungan dengan orang lain dan berfungsi juga untuk meningkatkan kemampuan
intelektual, serta kematangan emosional dan sosial. Penggunaan aspek kebahasaan
dalam proses pembelajaran sering berhubungan satu sama lainnya. Menyimak dan
membaca erat hubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan alat untuk menerima
komunikasi. Berbicara dan menulis erat hubungan dalam hal bahwa keduanya
merupakan cara untuk mengekspresikan makna (Tarigan, 1986:10). Berdasarkan hasil-hasil penelitian para
ahli psikologi perkembangan, mendefinisikan perkembangan bahasa sebagai
kemampuan individu dalam menguasai kosa kata, ucapan, gramatikal, dan etika
pengucapannya dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan perkembangan umur
kronologisnya. Penggunaan bahasa
menjadi efektif sejak seorang individu berkomunikasi dengan orang lain.
Perkembangan
bahasa dimulai dengan meniru suara atau bunyi tanpa arti dan diikuti dengan
ucapan satu suku kata, dua suku kata, menyusun kalimat sederhana, dan
seterusnya. Dengan hubungan inilah, ia berhubungan social sesuai dengan tingkat
perilaku sosialnya.
Perkembangan
bahasa terkait dengan kognitif, yang berarti fakta intelegensi sangat
berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Tingkat intelektual bayi
belum berkembang dan masih sangat sederhana. Semakin besar bayi itu bertumbuh
dan berkembang, kemmpuan berbahasanya mulai berkembang dari tingkat yang
sederhana menuju tingkat yang lebih kompleks.
Pola
bahasa yang dimiliki anak adalah bahasa yang berkembang di dalam keluarga.
Perkembangan bahasa dalam keluarga dilengkapi oleh bahasa masyarakat di mana
mereka tinggal. Bersamaan dengan kehidupannya dalam masyarakat luas, anak
mengikuti proses belajar di sekolah juga. Sebagaimana diketahui, di lembaga
pendidikan bahasa diberikan rangsangan yang terarah sesuai dengan kaidah-kaidah
yang benar. Proses pendidikan bukan hanya memperluas dan memperdalam cakrawala
ilmu pengetahuan semata, namun juga secara berencana dan bertahapterjadi
perubahan perkembangan sistem budaya, termasuk di dalamya perilaku berbahasa.
Pengaruh pergaulan dalam masyarakat atau teman sebaya terkadang cukup
menonjol, sehingga bahasa anak menjadi lebih diwarnai pola bahasa pergaulan
yang berkembang di dalam kelompok sebayanya. Dari kelompok itu berkembang
bahasa sandi, bahasa kelompok tertentu yang bentuknya amat khusus (bahasa
prokem).
Perkembangan bahasa anak dilengkapi dan diperkaya oleh lingkungan
masyarakat dimana mereka tinggal. Hal ini berarti bahwa proses pembentukan
kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan dengan masyarakat sekitar akan
memberi ciri khusus dalam perilaku berbahasa.
Masa remaja, terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal dan
mendalami bahasa asing. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan, sarana dan
pra sarana, menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. Tidak
bisa dipungkiri, dalam era globalisasi sekarang ini, penguasaan bahasa asing
merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier
seseorang. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan
berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan
hidup dan kariernya. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat
berakibat pula pada aspek emosional, sosial, dan aspek-aspek perilaku dan
kepribadian lainnya.
Dilihat dari
perkembangan umur kronologis yang dikaitkan dengan perkembangan kemampuan
berbahasa individu, tahapan perkembangan bahasa dapat dibedakan ke dalam
tahap-tahap sebagai berikut:
1. Tahap meraban (pralinguistik) pertama
Pada tahap
meraban pertama, selama bulan-bulan awal kehidupan, bayi-bayi menangis,
mendekut, mendenguk, menjerit, dan tertawa, seolah-olah menghasilkan tiap-tiap
jenis bahasa yang mungkin dibuat. Banyak pengamat menandai ini sebagai tahap
bayi menghasilkan segala bunyi ujaran yang dapat ditemui dalam segala bahasa
dunia. Bagaimanapun juga, hal yang penting adalah bahwa suara-suara bayi yang
masih kecil itu secara linguistik tidaklah merupakan ucapan-ucapan yang
berdasarkan organisasi fonemik dan fonetik. Suara-suara atau bunyi-bunyi
tersebut tidaklah merupakan bunyi-bunyi ujaran, tetapi barulah merupakan
tanda-tanda akustik yang diturunkan oleh bayi-bayi kalau mereka menggerakkan
alat-alat bicaranya dalam setiap susunan atau bentuk yang mungkin dibuat.
Mereka bermain dengan alat-alat suara mereka, tetapi rabanan mereka hendaknya
jangan digolongkan sebagai performansi linguistic.
2. Tahap meraban (pralinguistik) kedua
Tahap ini
disebut juga tahap kata omong kosong, tahap kata tanpa makna. Awal tahap
maraban kedua ini biasanya pada permulaan pertengahan kedua tahun pertama
kehidupan. Anak-anak tidak menghasilkan sesuatu kata yang dapat dikenal, tetapi
mereka berbuat seolah-olah mengatur ucapan-ucapan mereka sesuai dengan pola
suku kata. Banyak kerikan yang aneh-aneh serta dekutan-dekutan yang menyerupai
vokal hilang dari output para bayi, dan mereka mulai menghasilkan urutan-urutan
KV (konsonan-vokal), dengan satu suku kata yang sering diulang berkali-kali.
Pada suatu
waktu bagian terakhir periode ini (sekitar akhir tahun pertama kehidupan)
muncullah “kata pertama”. Biasanya kata itu tidak akan berbunyi lebih
menyerupai kata orang dewasa daripada sejumlah rabanan yang telah dihasilkan
oleh bayi selama tahap ini, tetapi akan dianggap sebagai kata pertama itu.
3. Tahap holofrastik (tahap linguistic pertama)
Pada usia
sekitar 1 tahun anak mulai mengucapkan kata-kata. Satu kata yang diucapkan oleh
anak-anak harus dipandang sebagai satu kalimat penuh mencakup aspek intelektual
maupun emosional sebagai sebagai rasa untuk menyatakan mau tidaknya terhadap
sesuatu. Anak menyatakan “mobil” dapat berarti “saya mau mobil-mobilan”, “saya
mau ikut naik mobil bersama ayah”, atau “saya mau minta diambilkan mobil mainan”.
Ucapan-ucapan satu kata pada periode ini disebut holofrase-holofrse, karena
anak-anak menyatakan makna keseluruhan frase atau kalimat dalam satu kata yang
diucapkanya itu. Banyak sekali terdapat kedwimaknaan dalam ujaran anak-anak
selama tahap ini dan juga berikutknya. Maka seringkali perlu diamati
benar-benar apa yang sedang dilakukan anak-anak itu, barulah kita dapat
menentukan apa yang dia maksudkan dengan yang dia ucapkan itu.
4. Ucapan-ucapan dua kata
Anak-anak
memasuki tahap ini dengan pertama sekali mengucapkan dua holofrase dalam
rangkaian yang cepat. Misalnya, anak-anak yang mempergunakan
holofrase-holofrase “kucing” dan “papa” mungkin menunjuk kepada seekor kucing
dan diikuti oleh jeda sebentar, lalu kepada papa. Maknanya akan terlihat dari
urutan ‘kucing papa’, tetapi jelas anak-anak itu telah mempergunakan dua buah
holofrase untuk menyatakan makna tersebut. Segera setelah itu anak-anak akan
mulai memakai ucapan-ucapan dua kata seperti ‘baju mama’, ‘pisang nenek’, ‘saya
mandi’, dan sebagainya.
Pada tahap
ini anak mulai memiliki banyak kemungkinan untuk menyatakan kemauannya dan
berkomunikasi dengan menggunakan kalimat sederhana yang disebut dengan istilah
“kalimat dua kata” yang dirangkai secara tepat.
5. Pengembangan tata bahasa
Pada tahap
ini anak mulai mengembangkan tata bahasa, panjang kalimat mulai bertambah,
ucapan-ucapan yang dihasilkan semakin kompleks, dan mulai menggunakan kata
jamak. Penambahan dan pengayaan terhadap sejumlah dan tipe kata secara
berangsur-angsur meningkat sejalan dengan kemajuan dalam kematangan
perkembangan anak.
6. Tata bahasa menjelang dewasa (tahap pengembangan
tata bahasa lengkap)
Pada tahap
ini anak semakin mampu mengembangkan struktur tata bahasa yang lebih kompleks
lagi serta mampu melibatkan gabungan kalimat-kalimat sederhana dengan
komplementasi, relativasi, dan kongjungsi. Perbaikan dan penghalusan yang
dilakukan pada periode ini mencakup belajar mengenai berbagai kekecualian dari
keteraturan tata bahasa dan fonologis dalam bahasa terkait.
7. Kompetensi lengkap
Pada akhir
masa anak-anak, perbendaharaan kata terus meningkat, gaya bahasa mengalami
perubahan dan semakin lancar serta fasih dalam berkomunikasi. Keterampilan dan
performansi tata bahasa terus berkembang kea rah tercapainya kompetensi
berbahasa secara lengkap sebagai perwujudan dari kompetensi komunikasi.
Komentar
Posting Komentar